Menurut Kantor Berita Internasional ABNA, menurut media resmi Israel (KAN) yang mengutip sumber informasi, Hamas telah menetapkan bahwa sebagai imbalan dari pembebasan 35 wanita Palestina yang ditawan di Israel dan masuknya ratusan truk yang membawa bantuan dan bahan bakar ke Jalur Gaza, Hamas akan membebaskan 35 tentara wanita Israel.
Menurut laporan Ilyum Rusia, Hamas juga menuntut perpanjangan gencatan senjata selama beberapa hari.
Selain itu, menurut laporan ini, Hamas telah menyatakan kesiapannya untuk membebaskan tahanan sipil dan asing dengan imbalan pembebasan 140 warga Palestina yang ditahan Israel atas tuduhan "aktivitas bersenjata".
Laporan ini menambahkan bahwa terdapat kemajuan signifikan dalam komunikasi antara para pihak dan terdapat optimisme mengenai keberhasilan perjanjian ini.
Para pejabat Israel, sambil mengungkapkan optimisme mereka yang hati-hati tentang kemungkinan tercapainya perjanjian ini, menyatakan bahwa perjanjian ini tidak akan merugikan perang di Gaza bahkan jika gencatan senjata dilakukan selama beberapa hari.
Pada saat yang sama, situs berita Axios mengungkapkan bahwa Brett McGurk, penasihat senior presiden AS untuk urusan Timur Tengah, sedang melakukan perjalanan ke Israel dan sejumlah negara di kawasan.
Sebelumnya, seorang pejabat yang mendapat informasi melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken, dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Qatar Mohammad bin Abdulrahman Al Thani pada hari Sabtu, memintanya untuk menekan Hamas agar membebaskan lebih banyak tahanan dan mengizinkan lebih banyak warga Amerika untuk keluar dari Gaza.
Menurut pejabat tersebut, Menteri Luar Negeri Qatar menegaskan bahwa perundingan pembebasan sebagian besar tahanan memiliki proses yang positif, namun situasi berubah sewaktu-waktu dan pemboman di Gaza tidak membantu perundingan tersebut.
Berdasarkan laporan tersebut, Mohammad bin Abdul Rahman mengatakan kepada Blinken bahwa dia akan melanjutkan negosiasi dengan Hamas.